Rabu, 01 Mei 2013


KATA HATI
Oleh : SUCI PRAHATINI

Kecilku bukan berarti tak tampak, coba singkap kabut yang menutupi matamu !!  
Andaikan saja kata hati ini dapat di dengar oleh mereka yang memang benar mempunyai andil dan berwenang , pastilah akan kuteriakan segala keluh kesah yang telah membelenggu dalam relung  jiwa yang seakan merasakan kepedihan .
Mirisnya begitu terasa ..
Duhai dikau yang berada di kursi singgahsana di luar sana , sampai kapankah aku rakyat kecil yang terbuang ini masih bisa kau lihat ? apakah aku ini begitu kecil hingga matamu pun tertutup dalam kabut kenikmatan , kemanjaan dirimu dalam setiap kenyamanan yang begitu indah kau nikmati .
Bukan nya aku ingin kau kasiani , karna itupun bukan yang patut ku perjuangkan hak ku . Hak ku adalah ingin kau hargai , kau ayomi. Mungkinkah tubuh-tubuh lemah ini akan terus di pandang sebagai kerikil yang hanya saja bisa terinjak terus dan lagi.
Akankah kemerdekaan ini dapat kami nikmati , merdeka dari kemiskinan , dari segala korban keserkahan mu , keputusan mu yang hanya bisa memperkaya dirimu sendiri itu . yang masih belum bisa aku mengerti , apalagi membrontaknya .Di manakah keadilan yang sebenarnya sudah di perjuangkan sejak zaman kemerdekaan ini . Rasanya Nilai-nilai itupun ikut sirna bersamaan dengan terus melajunya detik,menit , jam yang bergulir mengikuti arah desiran angin . meliuk-liukkan di alam bebasnya dunia .Seraya nasibku ini bagai kapas yang berterbanagan , terombang-ambing menyusuri hempasan angin .
Duhai engkau yang mempunyai kuasa di dunia , di manakah hati nurani kalian ? begitu susahkah kalian untuk mencurahkan sedikit saja perhatianmu untuk rakyat kecilmu .Seakan Dunia ini adalah panggung sandiwara yang tak pernah ada akhirnya , biar begitu aku harus tetap kuat , tegar menjalani segala tantang segala zaman . Dan percayakah kalian bahwa harta yang menyilaukan itu adalah hanya titipan dari-Nya . Percayakah jika masih ada kehidupan yang abadi setelah ini !
Meski mata ini bisa saja terpejam untuk menyaksikan ke tidak adilan , namun mata hati masih terus bisa membenarkan seolah dia berdemonstrasi menuntut hak nya untuk di dengar .
Ya.. Kini hanyalah seberkas bait Do’a yang bisa menguatkanku , kepasrahanku yang begitu tersimpan banyak harapan untuk melihat bangasaku , kota kelahiranku , negara tercintaku hidup secara demokrasi sesuai dengan pila-pilar Pancasila yang telah menjadi pedoman secara beraturan . Pahami pilar itu maka semua akan kembali sesuai fitrahnya .
Hem ..
Namun apalah guna aku terus berkeluh kesa , toh mereka pun masih akan terus melakukan nya , namun siapa yah kalau bukan aku sendiri yang dapat meneriakan suara hatiku . Biarlah ..
Maka ijinkanlah aku untuk sedikit saja merangkai kata demi kata , hingga menjadi syair yang syahdu mewakili kata hatiku sendiri . Sedikit membuat obat hati dari segala belenggu yang menyesakan dada jika tak tersuarakan .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar